PENGARUH KEBIJAKAN UTANG, KEBIJAKAN DIVIDEN, RISIKO INVESTASI DAN PROFITABILITAS PERUSAHAN TERHADAP SET KESEMPATAN INVESTASI

subchan -, Sudarman -

Sari


Dalam melakukan initial public offering (IPO) perusahaan bisanya menggunakan hutang dalam memenuhi kebutuhan dananya. Hal ini dilakukan dengan penerbitan obligasi maupun hutang kepada kreditur.  Dampak keputusan pendanaan tersebut sangat penting bagi operasional perusahaan, namun kontroversi mengenai keputusan pendanaan jangka panjang hingga saat ini masih terjadi. Menurut Husnan (2002) pendanaan jangka panjang dan struktur modal perusahaan merupakan dua variabel yang tidak dapat dipisahkan dari perspektif manajemen keuangan.

Hubungan kebijakan utang, kebijakan dividen, risiko dan profitabilitas dengan set kesempatan investasi menarik beberapa peneliti.  Set kesempatan Investasi merupakan keputusan investasi dalam bentuk kombinasi aktiva yang dimiliki (asset-in place) dan pilihan pertumbuhan (growth option) pada masa yang akan datang (Kusuma, 2000). Menurut Kusuma, (2000) set kesempatan investasi merupakan nilai perusahan yang besarnya tergantung pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen dimasa yang akan datang, yang pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang diharapkan akan menghasilkan return yang lebih besar. Komponen dari nilai perusahaan merupakan hasil dari pilihan–pilihan untuk membuat investasi dimasa yang akan datang adalah merupakan set kesempatan investasi.

Set Kesempatan investasi dipengaruhi oleh seberapa besar hutang yang digunakan dalam struktur modal. Karena penggunaan modal saham atau hutang memiliki konsekuensi masing-masing. Penggunaan saham yang terlalu banyak dengan mengabaikan pemanfaatan hutang berdampak pada tingginya kewajiban bagi perusahaan untuk membayarkan dividen. Hal ini menyebabkan hilangnya kesempatan bagi perusahaan untuk memanfaatkan laba untuk kepentingan pertumbuhan apabila pemegang saham tidak menghendaki, Fijrijanti dan Hartono (2004). Demikian juga sebaliknya, apabila perusahaan 100% menggunakan hutang, maka perusahaan akan menanggung beban kewajiban kepada kreditur yang tinggi.Menurut Jaggi dan Gul (1999) dalam Lestari menunjukan hubungan yang positif antara aliran kas bebas dan kebijakan utang perusahaan untuk perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi yang rendah dan hubungan yang positif antara kebijakan utang,aliran kas bebas yang tinggi untuk perusahaan yang memiliki kesempatan investasi  yang rendah ,lebih jelas pada perusahaan yang size-nya besar.  Menurut Fijriyanti dan Hartono (2004) kebijakan pendanaan berimplikasi pada set kesempatan investasi dan sebaliknya. Tindakan perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi besar relatif lebih fleksibel untuk bertindak oportunistik dan sulit dideteksi, karena real option (tidak sebagaimana real asset) sulit diobservasi tanpa informasi dari pihak internal perusahaan. Pengaruh kebijakan hutang terhadap set kesempatan investasi juga dikemukakan oleh Fama et.al (2000) yang menyatakan bahwa keseimbangan financing cost (biaya pendanaan) mendorong perusahaan yang memunyai investasi besar cenderung mempunyai hutang yang tinggi. Semakin besar kesempatan investasi, maka semakin besar perusahaan menggunakan dana eksternal khususnya hutang, apabila retained earning dan internal equity, tidak mencukupi dan sebaliknya semakin tinggi menurut tradeoff theory penggunaan hutang yang tinggi akan memberikan manfaat bagi perusahaan, karena manfaat bersih dari penggunaan hutang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang ditimbulkan.

Menurut Jones dan Sharma (2001) dalam Lestari (2004) hubungan antara set kesempatan investasi  dan debt equity  ratio dan dividend yield adalah negatif yang berarti perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi  yang tinggi akan memiliki debt equity ratio dan devidend yield yang rendah. Menurut Husnan (2002) bagi perusahaan kebijakan dividen adalah sebuah kebijakan yang sulit ditebak (puzzle). Untuk meningkatkan nilai perusahaan, maka disamping membuat kebijakan dividen maka perusahaan dituntut untuk tumbuh. Pertumbuhan dapat diwujudkan dengan menggunakan kesempatan investasi sebaik-baiknya. Investasi berhubungan dengan pendanaan dan apabila investasi sebagian besar didanai internal equity maka akan mempengaruhi dividen yang dibagikan. Semakin besar investasi semakin berkurang dividen yang dibagikan. Apabila dana internal equity kurang mencukupi dari dana yang dibutuhkan untuk investasi maka bisa dipenuhinya dari eksternal khususnya dari hutang. Perusahaan yang cenderung menggunakan sumber dana eksternal untuk mendanai tambahan investasi akan membagikan dividen yang lebih besar.

Lestari (2004), Fijriyanti dan Hartono (2000), Subekti dan Kusuma (2000) membuktikan perusahaan yang tumbuh memberikan deviden yang lebih kecil dari perusahaan yang tidak tumbuh. Karena, laba yang ditahan yang dihasilkan perusahaan sebagian perusahaan di alokasikan untuk melakukan ekspansi. Menurut Copeland (2010) salah satu bentuk kebijakan dividen adalah kebijakan dividen optimal yaitu kebijakan yang menciptakan keseimbangan antara dividen saat ini dan pertumbuhan di masa yang akan datang (kesempatan investasi). Pendapat lain mengenai hubungan antara kebijakan dividen dan set kesempatan investasi Fijrijanti dan Hartono (2004) yang menyatakan bahwa perusahaan yang membayar dividen tinggi diasumsikan memiliki kesempatan pertumbuhan yang tinggi, karena pembayaran dividen merupakan sinyal dari perusahaan mengenai potensi pertumbuhan di masa yang akan datang.

Selain kebijakan dividen dan kebijakan hutang, risiko merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi Set Kesempatan Investasi.  Dalam dunia usaha, hampir semua investasi mengandung unsur ketidak pastian atau resiko. Investor tidak tahu secara pasti berapa dan apa yang akan diperolehnya dari investasi yang dilakukannya. Dalam keadaan seperti ini dapat dikatakan bahwa investor menghadapi resiko dalam investasi yang dilakukannya. Karena investor menghadapi kesempatan investasi yang beresiko, pilihan investasi tidak dapat hanya mengandalkan pada tingkat keuntungan yang diharapkan saja, sehingga Set Kesempatan Investasi harus dipertimbangkan terhadap faktor risiko, Lestari (2004).

Resiko disinonimkan dengan ketidakpastian, karena resiko mengacu pada adanya variasi nilai antara yang diperkirakan dengan nilai-nilai observasi. Dengan demikian resiko dapat diartikan sebagai adanya ketidakpastian tentang nilai-nilai yang akan terjadi. D’ Saouza dan Saxena (1999) dalam Lestari menunjukan terdapat hubungan yang negatif  antara resiko investasi  dengan set kesempatan investasi. Menurut Van Horn dan Wachowicz, JR (1997; 94) mendifinisikan resiko sistematis dan resiko tidak sistematis sebagai resiko sistematis (Systematic risk) dan Resiko tidak sistematis (unsystematic risk). Lestari (2004) yang menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi tidak menyukai pembiayaan yang akan meningkatkan leverage. Hal ini berkaitan dengan leverage akan meningkatkan risiko bagi perusahaan untuk dinyatakan bangkrut oleh debtholder, jika tidak bisa mebayar hutang. Pendapat lain mengenai hubungan risiko dengan set kesempatan investasi dinyatakan oleh Al Najjar dan Belkaoui (1999) dalam Lestari (2004) yang menyatakan bahwa hubungan antara pertumbuhan dengan risiko bisa positif atau negatif tergantung pada nilai relatif parameter penelitian. Hasil penelitian Lestari (2004) membuktikan bahwa risiko sistematik berkaitan dengan set kesempatan tumbuh yang dimiliki perusahaan.

Sedangkan profitabilitas berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan aktiva yang dipercayakan kepada manajemen. Semakin tinggi profitabilitas, maka semakin tinggi kas yang tersedia di perusahaan untuk mendanai investasi, dan sebaliknya semakin kecil profitabilitas, maka semakin rendah kemampuan perusahaan dalam melakukan pendanaan internal.Menurut Alhajjar dan Riahi Belkaoui (2001) dalam Lestari menyatakan hubungan antara profitabilitas dengan set kesempatan investasi adalah positif. Hubungan antara profitabilitas dengan set kesempatan investasi dinyatakan oleh Prasetyo (2000) yang menyatakan bahwa nilai perusahaan sebagai kombinasi income generating asset-in-place dan growth ooportunities. Profitabilitas yang tinggi memberikan sinyal mengenai pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, karena sebagian besar profitabilitas akan ditanamkan kembali dalam bentuk investasi untuk meningkatkan nilai perusahaan. Hasil penelitian Chandra (2006) juga menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi cenderung memiliki set kesempatan investasi yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan dengan profitabilitas rendah. Hasil tersebut mendukung Hasil penelitian Lestari (2004) yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap set kesempatan investasi.

Penelitian ini akan terfokus pada Apparel and Other Textile Products yang saat ini kepemilikannya identik dengan penanam modal asing. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka penelitian ini diberi judul “Pengaruh Kebijakan Utang, Kebijakan Dividen, Risiko Investasi dan Profitabilitas Perusahaan Terhadap Set Kesempatan Investasi”.


Teks Lengkap: PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Jl. Pamularsih Raya No.16
Telp. (024)7601410, (024)7600645
Fax. (024)77601329
Email: stie_dp@yahoo.com
Semarang 50148

http://stiedharmaputra-smg.ac.id